Satu halaman lagi yang sangat menyentuh hatiku di buku classic Heidi yang melegenda itu, yaitu saat Heidi menyadari dan mengerti arti kata-kata Nyonya Sesemann, Omanya Clara.
"Benar kata Nenek, Allah menunggu saat yang tepat untuk mengabulkan
doaku. Kalau waktu itu Allah langsung mengabulkan doaku dan mengijinkan aku pulang pada Kakek saat itu juga, seperti yang kumohon dalam doa-doaku sekarang aku pasti belum bisa membaca."
Tuhan tahu apa yang terbaik untukku, persis seperti yang dikatakan Nenek Clara. Betapa sempurna Dia mengatur semuanya.
Setelah ini, aku akan selalu berdoa seperti nasehat Nenek Clara, dan jika Tuhan tidak langsung mengabulkannya, aku tahu Dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih baik bagiku, sama seperti yang di kerjakannya di Frankfurt. Kita akan berdoa setiap hari, ya, Kek dan kita tidak akan melupakan Tuhan lagi,dan Dia tidak akan melupakan kita lagi.
"Dan, kalau sampai seseorang melupakan Nya." Kata kakek Nya lirih.
"Itu sangat buruk," kata Heidi dengan jujur, "karena Tuhan akan membiarkan orang itu melangkah menuruti kemauannya sendiri. Lalu, ketika segalanya tidak berjalan tidak sesuai dengan kehendak orang itu, tidak ada orang yang kasian kepadanya. Mereka hanya akan berkata, 'Engkau tidak menghiraukan Tuhan, dan sekarang Tuhan membiarkanmu mengurus dirimu sendiri."
"Itu benar, Heidi bagaimana engkau tahu?"
"Nenek Clara menjelaskan semuanya kepalaku."
Jadi keindahan dalam buku ini adalah kata-katanya yang memuat pesan. Jadi setelah membaca buku ini, ada yang tertinggal di hati kita.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Heidi II"
Posting Komentar