Tad, Ustad datang dalam kehidupan saya, saat mental dan kehidupan saya terpuruk. Kehadiran Ustad bukan hanya menghidupkan kembali semangat hidup saya,tapi juga mengobarkan kembali keyakinan saya akan kebesaran Allah.
Menghadapi cobaan yang bertubi-tubi membuat saya merasa Allah tidak sayang pada saya. Dalam situasi mental yang sangat terpuruk itulah Ustad hadir.
Ustad pasti bertanya-tanya,kenapa bisa kehadiran Ustad membawa dampak positif seperti itu sementara Ustad tidak melakukan apa-apa.
Tad,sebenarnya sosok Ustad mengingatkan saya pada seseorang yang pernah hadir dalam kehidupan saya yang telah lalu.
Sama seperti Ustad orang itupun datang dalam kehidupan saya saat mental dan kehidupan saya terpuruk. Jauh dari keluarga dan tanah air tercinta.
Dia adalah anak dari keluarga angkat saya di Malaysia. Negeri jiran yang tidak ramah dengan para pekerja dari negara kita yang tercinta ini. Tapi di sana saya memiliki sepenggal kisah yang sebenarnya ingin saya lupakan.
Tad, usia orang yang biasa saya panggil abang ini, dua tahun lebih muda dari saya. Tapi dia dan orang yang ada di sekitar saya tidak menyadari itu. Sosok saya yang imut membuat orang yang ada di sekitar saya berpikir kalau saya masih kecil. Saya membiarkan saja kesalah pahaman itu terjadi.
Ustad saya nyaman dengan keadaan itu. Dengan berpikir bahwa saya masih kecil, mereka sibuk memanjakan dan menyayangi saya.
Sebenarnya keluarga angkat saya itu memiliki dua orang anak lelaki. Yang seorang lagi usianya sama dengan saya, tapi saya malah merasa kalau adiknya yang bernama Muhammad hisyam lah yang lebih abang, daripada abang Azhari yang usianya lebih tua dua hari dari saya.
Tad, pertemuan saya dengan bang Hisyam juga cukup unik. Hampir tiga bulan lebih saya diterima menjadi bagian dari keluarga besar orang tua angkat saya itu, dan kami belum pernah bertemu muka. Sampai hari itu tiba.
Bang Hisyam yang masih kuliah di Institut Teknologi Malaysia memang tidak tinggal di rumah, Abang tinggal di asrama. Jadi jarang pulang ke rumah. Tapi nama dan sifatnya yang katanya temberang sudah biasa saya dengar. Jadi walaupun belum pernah bertemu tapi saya merasa tidak asing dengannya.
Siang itu saya dengan adik angkat saya Nur Aisyah, anak bungsu Emak sedang menikmati es krim ketika kak Farida dengan bang Arif suami nya pulang belanja. Kakak memang biasa berbelanja ke Singapura. Dan kalau sudah berbelanja, sepertinya hampir semua jenis buah-buahan yang ada di Singapura ingin di bawa pulang, jadi tidak heran kalau bagasi mobil nya penuh buahan.
Jadi saat saya sedang asyik menikmati es krim itulah kakak datang. Merasa tanggung, saya dan Nur Aisyah meneruskan makan es krim kami. Tapi pada saat itu juga bang Hisyam datang dan tanpa mau melihat situasi dia memarahi kami.
"Hisyam, awak ini kenapalah? Baru datang dah marah-marah. Sabar lah sikit!" Ema berusaha menenangkan hati bang Hisyam.
Saya tahu Ema mencemaskan perasaan saya. Saat itu hati saya memang sangat rapuh. Itu adalah bulan ke enam saya tinggal di Malaysia. Hati saya sedang di sesaki oleh rasa rindu pada kampung halaman dan negara tercinta jadi sangat sensitif dan rapuh.
Tapi saya merasa aneh dengan perasaan saya saat itu. Sikap kasar bang Hisyam sama sekali tidak membuat saya takut, saya malah merasa lebih nyaman.
"Tak ape Ria, awak habiskan aje ais krim awak." Kata Emak.
"Tak ape Mak, biar saye bantu mak Minah angkat belanjaan kita. Bang Hisyam benar tak elok mak Minah kerje saye asyik makan ais krim." Aku menenangkan Emak.
"Tau pun tak elok!" Bang Hisyam mencibir ke arah ku."
"Biarin aja, jahat!" Balasku dengan logat Indonesia yang sangat kental.
"Ria..!" Emak dan kak Farida serentak meneriakkan nama saya tertahan.
Saya pura-pura tidak mengerti kecemasan Emak dan kak Farida. Saya sibuk membantu mak Minah dan Nur Aisyah menurunkan belanjaan dari bagasi mobil proton saga warna merah marun kakak.
Nur Aisyah selalu mengingatkan saya tentang sifat bang Hisyam yang temberang, alias mudah sekali marah. Tapi entah mengapa ketika saya melihat bang Hisyam sama sekali tidak ada rasa takut. Padahal sebelum bertemu terpikir oleh saya kalau yang namanya bang Hisyam pasti menakutkan.
Ternyata Tad, kenyataannya tidak seperti itu. Bang Hisyam memang tidak sehandsome bang Azhari, kulit bang Hisyam juga hitam sendiri. Ustad tau kalau keluarganya sampai menjulukinya anak keling. Keling adalah panggilan mereka pada orang keturunan India yang memang kulitnya sangatlah hitam.
"Baik-baik dengan bang Hisyam kak Ria, dia kalau udah marah sangat menakutkan." Bisik Nur Aisyah pada saya.
Entah mengapa Tad, saya sama sekali tidak merasa kalau bang Hisyam menakutkan. Saya malah merasa bang Hisyam sangat menyenangkan dan saya nyaman berada dekat dengannya. Kehadiran dan perlakuannya pada saya benar-benar membawa efek positif pada saya.
Belum ada tanggapan untuk "Catatan harian I"
Posting Komentar