Tad, sesungguhnya tidak ada kesempurnaan di dunia ini. Begitupun kegembiraan saya saat berada dalam kehangatan keluarga yang lengkap di Malaysia waktu itu.
Sesungguhnya ada ganjalan yang sangat mengganggu. Sepertinya ada yang mencurigai ketulusan hati saya. Abang Azhari sepertinya nggak yakin, kalau yang saya cari dalam keluarganya hanyalah kehangatan keluarga.
Abang mempunyai prasangka tersendiri. Mungkin itu yang membuat sejak awal, saya nggak bisa bersikap lepas kalau dengan Abang yang satu ini. Biasa Tad, sudah bukan rahasia lagi kalau banyak pekerja perempuan dari Indonesia,menghalalkan segala cara untuk mendapatkan cinta dari laki-laki Malaysia. Demi mendapat kenyamanan hidup.
Rupanya prasangka itu yang tertanam dan tumbuh dalam pikiran Abang Azhari selama ini. Itulah yang membuat Abang bersikap dingin dan menjaga jarak dengan saya. Kalau tidak takut kehilangan kehangatan keluarga yang sudah saya dapatkan, males banget terus berbaik-baik padanya.
Bayangkan, Abang mengira kalau saya ingin mendekatinya, sebel banget kalau ingat itu. Emangsih temen-temen di asrama kalau ketemu Abang pasti pada ramai dan sibuk menggodanya. Tapi sungguh, pada Abang yang satu ini saya sama sekali nggak respek. Kalau saya berusaha baik ya hanya karena nggak mungkinkan, kalau dengan yg lain ramah tapi dengan Abang Az, saya jutek.
Saya sendiri nggak tahu dan sampai sampai saat ini, saya masih hanya bisa menduga-duga bagaimana mana penilaian Abang Az, tentang saya. Saya nggak ingin tahu apalagi sejak kejadian malam itu.
Sejak bang Hisyam dekat dengan saya, setiap jumat sore Dia akan menjemput saya di asrama untuk bersama-sama pulang ke Pontian. Untuk Ustad ketahui tempat kerja saya di Johor baru dan rumah Emak di Pontian Johor. Jarak antara Johor baru dengan Pontian membutuhkan kurang lebih dua jam perjalanan.
Tapi jumat itu Abang Hisyam telpon katanya Abang nggak pulang jadi saya boleh tetap di asrama atau pulang ke rumah kak Farida. Rumah kak Farida nggak jauh dari asrama. Karena kawan-kawan juga udah pada punya acara sendiri-sendiri saya males di asrama sendirian. Jadi saya pulang ke kak Farida. Tapi saya sebel banget saat saya tahu ternyata bang Azhari juga di sana.
Jadilah minggu itu adalah libur terburuk dalam hidup saya. Di rumah Kakak ada tiga kamar. Kamar utama, kamar pembantu dan kamar tamu. Tapi setelah saya di sana, pembantu kakak minta ijin pulang karena ada keluarganya yang sakit. Jadi saya tidur di kamar pembantu sendiri, sementara kamar itu dengan kamar tamu yang di tempati Abang Az dibatasi kamar mandi.
Kakak sambil menunggu suaminya pulang masih nonton tv di bawah. Saya minta ijin naik ke kamar duluan karena saya mau menyelesaikan membaca buku yang tadi saya beli di komtar. Saya kalau udah baca buku susah berhenti kalau belum selesai atau ada hal emergensi. Saya nggak tau itu jam berapa ketika tiba-tiba Abang Az udah duduk di sisi saya yang membaca sambil telungkup di tempat tidur.
Tentu saja itu membuat saya terkejut dan reflek saya melompat turun. "Jangan ngomong apa-apa, saya mau Abang keluar!" Kata saya tanpa mau tahu alasan mengapa Dia masuk ke kamar tempat saya .
"Ria..Ria..." Dia tergagap dengan sikap ingin meminta saya tenang. Tapi saya nggak mau tahu. Buat saya, apapun alasannya, saya ngga mau dengar. Saat Dia masuk tanpa permisi saya udah menutup semua kesempatan untuk penjelasan.
Tad, kejadian itu tidak ada yang tau. Saya menyimpannya sendiri. Saya bersikap seperti biasa saja, tapi saya sedih. Apa yang Abang pikir tentang saya? Kebahagiaan saya jadi hampa sejak itu. Penjelasan apapun tidak bisa saya terima. Masuk ke kamar seorang gadis di tengah malam, buat saya tidak bisa di jelaskan.
Rupanya seperti itu kehidupan. Lama saya merenunginya. Tidak ada pesta yang tak usai. Kebahagiaan, keindahan yang berlebihan tidak pernah bisa berlangsung lama. Dia seperti kembang api,indah menakjubkan tapi hanya sesaat. Kesederhanaan, biasa-biasa saja sesungguhnya yang abadi. Pandai mengelola emosi kuncinya.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Hari yang kelabu"
Posting Komentar