Heidi adalah judul buku yang sangat aku sukai. Entah mengapa saat pertama kali aku membacanya di perpustakaan sekolah aku langsung jatuh cinta pada buku itu.
Waktu itu aku baru duduk di SMP kelas satu atau kalau sekarang kelas vii. Dan setelah itu banyak sekali buku yang aku baca tapi buku itu tetap yang paling aku sukai. Sampai sekarang cerita tentang gadis kecil yang menjalani hidupnya di lereng pegunungan Alpen di Swiss masih tetap hidup di hatiku.
Keindahan ceritanya tetap hidup di hatiku. Gadis kecil yang bernama Heidi, benar-benar menginspirasiku. Cara hidupnya yang sederhana, cintanya pada sesama benar-benar sangat patut untuk ditiru.
Ada percakapan antara Heidi dengan Oma Clara yang bernama nyonya Sesemann yang selalu hidup dan segar di ingatanku, yaitu ketika suatu siang Oma datang ke kamar Heidi.
"Sayang, katakan padaku kenapa engkau sedih. Apa ini masalah yang sama?"
Heidi mengangguk.
"Apa engkau sudah mengatakannya kepada Tuhan?"
"Ya."
"Dan, apa engkau berdoa setiap hari dan meminta-Nya membuatmu bahagia lagi?"
"Tidak, sudah tidak."
"Aku sedih mendengarnya. Kenapa engkau berhenti berdoa?"
"Itu tidak ada gunanya. Tuhan tidak mendengarku. Aku yakin jika semua orang di Frankfurt berdoa memohon sesuatu pada saat yang sama, Tuhan tidak mungkin memperhatikanmu, jadi aku tahu Dia tidak mendengarku."
"Kenapa engkau begitu yakin?"
"Aku mendoakan hal yang sama setiap hari selama berhari-hari, tapi tidak ada yang terjadi."
"Doa tidak bekerja seperti itu, Heidi. Jika kita memohon sesuatu yang tidak tepat bagi kita, Dia tidak akan mengabulkannya. Tetapi jika kita terus berdoa dan percaya, pada hari yang di pilih-Nya, Dia akan memberi sesuatu yang lebih baik bagi kita. Percayalah pada Tuhan sayang, Dia bisa mendengar doamu karena Dia bisa mendengar doa semua orang sekaligus. Itulah bagian dari mukjizat-Nya. Engkau pasti meminta sesuatu yang menurut Tuhan belum saatnya kau terima sekarang. Tuhan mungkin sedang berkata kepada dirinya sendiri,' Doa Heidi akan kukabulkan, tetapi pada saat waktunya sudah tepat, supaya anak itu benar-benar bahagia. Jika Aku menjawab doa Heidi sekarang, mungkin kelak dia menyesalinya karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya' selama ini Tuhan selalu menjagamu jangan pernah meragukannya."
Heidi mendengarkan kata-kata perempuan tua itu dengan seksama. Dia percaya sekali kepada Oma dan ingin mengingat semua yang di dikatakannya, lalu dia berseru dengan nada menyesal.
"Sekarang juga aku akan berdoa memohon Tuhan mengampuni aku dan tidak akan melupakannya lagi."
Percakapan itu terus hidup di ingatanku. Sampai hari ini. Sudah hampir empat puluh tahun.
Artikel keren lainnya:
Belum ada tanggapan untuk "Heidi"
Posting Komentar