Tad, Bapak saya pergi dari rumah ketika saya masih kecil. Mungkin saya kelas satu SD, tepatnya saya nggak ingat yang pasti hari itu menjelang lebaran. Saya senang sekali karna saya sudah dibelikan baju baru. Rasanya nggak bosen Tad, bolak-balik melihat baju baru.
Tapi siapa sangka, kegembiraan itu tiba-tiba berubah menjadi duka. Tad sampai saat ini saya nggak tahu mengapa tiba-tiba prahara itu terjadi karena semula semua biasa saja. Enyak sibuk masak dan bikin kue di bantu Empo. Dan saya yang masih kecil juga membantu walau jadi bikin Empo repot. Abang saya yang nomor dua bang Enu namanya datang.
"Mung, cuciin kain buat sholat ied
dulu sana." Kata bang Enu tanpa mau tahu keadaan Empo yang sedang repot.
"Ga bisa Bang, adonannya nanti keras dan nggak bisa di cetak." Kata Empo.
"Lebaran nggak ada kue nggak dosa tapi kalo nggak sholat ied, gara-gara kain kotor itu yang dosa." Kata bang Enu dengan mata membesar.
"Cuci sendiri sana. Segala nggak ada kue nggak dosa, kalau udah jadi siapa yang paling rakus makannya." Kata Enyak sambil mendatangi Abang dan bertolak pinggang di depan Abang.
"Bikin kue hanya saat lebaran, itu membuat kue jadi hal yang wajib saat lebaran. Dosa hukum nya." Kata Abang sok.
Abang lagi ikut entah pengajian apa? Yang pasti dia selalu nyalahin kita. Sholat nggak boleh pake usolilah, nggak boleh ini, nggak boleh itu jadi sebel.
"Enyak nggak mau tahu, jangan banyak omong! Cepet sana cuci kain sendiri!" Enyak marah-marah sama Abang.
Entah kemudian Abang ngomong apa? Yang pasti Enyak jadi marah dan tak terkendali. Enyak bilang kalau Enyak lelah. Dan Enyak mengungkit Bapak saya yang katanya males.
Memang Tad, Bapak saya itu aneh. Tiap hari Enyak pergi berjualan dan mencari uang, sementara Bapak di rumah. Maksud Enyak, Bapak saya tugasnya mengawasi para pekerja yang bekerja di sawah kita. Pekerja itu kalau tidak di awasi bekerjanya nggak serius alias banyak mainnya.
Tapi bapak saya kerjanya malahan asyik ngobrol di warung atau tidur. Nggak adilkan? Tapi itulah yang terjadi tiap hari.
Jadi dari masalah kain kotor, Enyak marah-marah, dan jadi marah sama Bapak saya. Nggak nyambung memang tapi itulah yang terjadi. Saat kemarahan Enyak tidak lagi terkendali Enyak menyuruh Bapak saya pergi dari rumah. Sebenarnya kejadian seperti itu bukan yang pertama tapi hari itu segalanya jadi lain.
Enyak bukan hanya menyuruh Bapak saya pergi Tad, tapi Dia menyuruh saya juga. Rasanya seperti mimpi. Dan entah mengapa? Bapak saya pergi dari rumah dan tidak pulang lagi. Sejak saat itu hati saya sering terluka. Enyak kalo marah jadi sering menyuruh saya pergi untuk ikut Bapak.
Saat itu terjadi hati saya rasanya sakit sekali. Saya sedih dan merasa nggak ada orang yang sayang sama saya. Itulah yang membuat saya ingin menyayangi semua anak, nggak boleh ada anak kecil yang merasa sendiri dan tidak di sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar